Kursus di Kampung Inggris Pare
Salam semuanya…. Hari ini kami ingin menulis tentang salah satu pidato bahasa Inggris yang ditampilkan oleh murid kursus bahasa Inggris CHOICE Kampung Inggris di PareKediri. Mohon ma’af jika ada grammar atau structure yang masih kurang tepat karena ini  murni dari murid dan yang perlu dihargai adalah keberanian, mental, dan kepercayaan diri yang kita tanamkan pada murid untuk berbicara bahasa Inggris baik dalam conversation maupun dalam public speaking.


VERSI BAHASA INDONESIA
Assalamlkm wr wb.
Yg terhormat….
Pertama2
Kedua
Berbicara tentang guru, guru merupakan sosok yang sangat berjasa dalam kehidupan semua orang karena semua orang tidak bisa langsung pandai dan mengerti segala sesuatu tanpa bimbingan awal dari seorang guru, mulai dari kemampuan membaca, menulis, memahami bahkan mepraktikan sesuatu. Dan guru sangat dituntut untuk selalu berperilaku baik karena perilaku guru, langsung atau tidak langsung, berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa, baik yang positif maupun negatif. Jika kepribadian yang ditampilkan guru sesuai dengan segala tutur sapa, sikap, dan perilaku, siswa akan termotivasi untuk belajar dengan baik. Guru sejati tidak hanya mentrasfer ilmu, tetapi juga berbudi pekerti dan dapat menjadi contoh bagi siswa.
Pengaruh seorang guru terhadap anak didik hampir sebesar pengaruh orang tua terhadap anak. Bahkan, kita sering menemukan seorang anak tidak mau mengerjakan saat diperintah orang tua. Tetapi, ketika diperintah guru, dia mau mengerjakan. Meski kasuistik, hal tersebut mencerminkan bahwa pengaruh guru terhadap siswa sangat besar, termasuk dalam pembentukan karakter.
Sebagai kurikulum berjalan, guru seharusnya setiap saat memperbarui dan meningkatkan kemampuan keguruannya. Teladan nyata yang ditunjukkan guru akan lebih mudah melekat dalam perilaku siswa daripada pembelajaran secara verbal.
Aneka cibiran dan komentar sinis masyarakat seakan mengubah citra profesi guru yang dulu dikenal “sakral” menjadi marginal. Publik selalu menyoroti guru sampai sedetail-detailnya. Rusak sedikit citra itu, bisa terjadi isu besar. Meski hanya oknum yang melakukan, semua kena getahnya. Harapan yang membubung membuat masyarakat tidak bisa menerima guru berbuat salah.
Menurut Masruri (2006), guru terbagi dalam empat klasifikasi. Pertama, guru dasar. Mereka yang termasuk kategori itu adalah yang dilahirkan untuk menjadi guru. Dia bersahaja dan santun dalam perbuatan.
Kedua, guru bayar. Itu adalah kelompok guru yang selalu perhitungan terhadap waktu dan tenaga yang dikeluarkan. Bagi dia, profesi adalah mesin pencetak uang. Ada kesan materialistis yang dominan.
Ketiga, guru nyasar. Mereka menjadi guru sebagai pelarian, mungkin salah jurusan atau tidak mendapatkan pekerjaan di profesi lain. Kelompok tersebut masih bisa diluruskan bila kompetensi dan kemauan dirinya terus di-upgrade.
Keempat, guru benar. Itu merupakan guru yang niatnya benar dan tepat dalam empat hal. Yakni, waktu, biaya, tenaga, dan kualitas. Mereka tulus mengabdi demi tugas mulia mencerdaskan bangsa. Spirit berkobar, tak peduli orang berkomentar.
Di masyarakat tertanam bahwa guru adalah sosok yang penuh pengabdian. Pengabdian terhadap murid, sekolah, masyarakat, dan bangsa. Tak aneh, guru hampir selalu dilibatkan dalam berbagai ajang sosial kemasyarakatan. Menjadi panitia penyelenggara pemilu, pilkades, atau pengurus RT. Kadang, demi alasan jangka pendek, guru bertindak melenceng. Mereka menjadi hidden curriculum.
Untuk memaknai profesionalisme, guru perlu introspeksi tentang beberapa hal. Pertama, guru tidak boleh bosan meng-upgrade kemampuan dan keilmuan diri. Zaman terus berubah. Bagi guru, sekolah boleh berhenti. Tapi, belajar harus tetap jalan. Kalau tidak, mungkin benar kritik Franz Magnis Suseno, guru-guru kita tidak terlatih mengantisipasi perubahan. Mereka selalu melihat diri sebagai pemegang otoritas, tetapi dengan kepercayaan diri lemah.
Kedua, senantiasa meningkatkan profesionalisme. Tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilaksanakan oleh seseorang yang memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik yang sesuai dengan persyaratan untuk tiap jenis dan jenjang. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 disebutkan, seorang guru harus memiliki empat kompetensi utama. Yaitu, kompetensi pedagogis, kepribadian, profesional, dan sosial.
Ketiga, menjaga keikhlasan dan niat tulus untuk mengabdikan diri demi berkembangnya tradisi pendidikan di masyarakat. Tanpa keikhlasan, ilmu yang diberikan kepada siswa tidak akan terserap secara optimal.
Siswa mesti belajar berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantu mereka. Di atas segalanya adalah orang tua yang telah melahirkan dan mengasuh mereka. Siswa harus mengasihi dan menghormati orang tua mereka. Selanjutnya siswa harus berterima kasih kepada guru-guru, karena siswa memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan melalui guru-guru. Maka siswa mesti mengasihi dan menghormati guru. Demikian pula, siswa telah mendapatkan banyak hal dari masyarakat, dari bangsa, dari dunia, dan alam. Siswa mesti selalu berterima kasih kepada semua hal.
Lagu himne guru ini sering dinyayikan oleh para siswa pada saat upacara bendera atau perpisahan. Siapapun yang mendengarkan akan tersentuh hatinya, bahkan tidak jarang meneteskan air mata. Syair Lagu himne guru ini berisi ucapan terimakasih dan sanjungan terhadap profesi guru yang telah banyak jasanya terhadap bangsa dan negara. Yang masih menjadi pertanyaan dalam hati sang guru adalah apakah benar bahwa namanya selalu dikenang oleh mantan muridnya? Apakah benar masyarakat dan pemerintah berterima kasih secara tulus? Jika benar tindakan apa yang telah diperbuat masyarakat dan pemerintah untuk peningkatan profesionalisme maupun kesejahteraan guru?
Realitasnya profesi guru tidak semuanya seperti apa yang digambarkan dalam lagu himne guru. Tidak jarang murid yang dulu dididik dengan kesabaran dan keikhlasan, sekarang bersikap sebaliknya jika bertemu atau berpapasan di jalan mereka masa bodoh dan cuek. Tentunya tindakan tersebut sangat menyakitkan hati sang guru.
Guru seharusnya tidak cukup hanya diberikan ucapan terima kasih, sanjungan, dan hiburan melalui lagu lagu. Hal yang lebih penting bagi guru adalah adanya peningkatan profesionalisme, perlindungan, kesejahteraan, penghargaan yang layak, dan kelancaran karir.
Para guru dituntut untuk profesional dalam bidangnya, tetapi disisi lain pengabdian dan kerja kerasnya kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Nasip guru mulai dari orde lama sampai dengan era reformasi masih sangat memprehatinkan tidak semujur profesi lainnya. Hal ini disebabkan pemerintah ataupun yayasan (guru swasta) belum dapat memberikan gaji yang layak bagi guru seperti negara Brunai, Malaysia, Jepang, maupun Amerika Serikat. Gaji yang mereka diterima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya apalagi untuk rumahtangganya.
Guru dalam memenuhi kebutuhan hidup yang layak, mereka harus berjuang dan bekerja keras mencari penghasilan tambahan. Hal yang dilakukan guru khususnya di kaltim antara lain mengajar di sekolah lain, memberikan les privat, berjualan, bahkan menjadi tukang ojek. Oleh karena itu, tidaklah salah jika muncul pertanyaan bagaimana mereka dapat berpikir profesionalisme jika kebutuhan pokoknya saja (karbo hidrat) tidak terpenuhi? Apalagi untuk membeli buku-buku yang menunjang profesinya, bagaimana pendidikan dapat maju jika pendidiknya masih banyak menghadapi permasalahan?. Pertanyaan pertanyaan tersebut memerlukan jawaban berupa tindakan (kebijakan) nyata pemerintah dan pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi guru.
Masih terbayang bagaimana kita pas pertama kali masuk sekolah, pertama kali belajar nulis. Pensil yang kita pegang ikut bergetar karena tangan kita baru melakukannya, ditambah grogi pula. Tapi guru kita di sekolah dasar itu dengan telaten mengajari dan membimbing kita dengan tanpa pernah bosan.
Kalau kita berbicara kebaikan juga pengorbanan yang mereka berikan untuk kita sepertinya nggak ada akhirnya. Maka dari itu sekali lagi saya mengajak marilah kita berterima kasih kepada guru-guru kita, terima kasih yang tidak hanya dalam ucapan tapi juga dalam segala bentuk pengaplikasiannya seperti yang sudah saya jelaskan tadi.
Sekian dari saya, terima kasih atas perhatiannya. Mohon ma’af apabila anda menemukan banyak kesalahan dalam pidato saya. Akhir kata Assalmlkm wr. Wb.
VERSI BAHASA INGGRIS
Asslmlkm wr wb.
Excellency…
Respectable…
Honorable…
Firts of all let’s pray unto God Allah SWT who has given us mercies and blessings so we can attand and gather in this place in good condition and happy situation.
Secondly may peace and salutation always be given to the great prophet Muhammad SAW who has guided us from the darkness to the lightness, from stupidity to the cleverness namely Islam religion.
Talking about teachers, teachers are very instrumental figure in the life of everyone because everyone can not be smart and understand everything without initial guidance from a teacher, starting from the ability to read, write, understand and even practicing something. And teachers are required to always behave very well because the behavior of teachers, directly or indirectly, affect students’ motivation, both positive and negative. If teacher’s personality is displayed in accordance with all the teachers words, attitudes, and behaviors, students will be motivated to learn. True teachers do not only transfer knowledge, but also virtuous character and can be an example for students.
The influence of a teacher to the students almost as much as influence of parents against children. In fact, we often find a child does not want to do something when it was ruled by his or her parents. But, when it is ruled by a teacher, he or she want to do it. Although casuistic, it reflects that the influence of teachers on students is huge, including the formation of character.
As curriculum goes, the teacher should have time to update and improve the ability of education. Shown a real role model of teachers will be more easily attached in student behavior rather than verbal learning.
Various public scorn and cynical comments like changing the image of the teaching profession formerly known as “sacred” to be marginal. The public has always watched the teacher behavior up to the most detail thing. Slightly damage the image of it, there could be a big issue. Although the only person who did, all the taxable resin. Rising public expectations to the teachers make them do not receive if the teachers make one mistake.
According to Masruri (2006), teachers are divided into four classifications. First, the basic teacher. That is the person who was born to be teacher. He is humble and courteous in deed.
Second, paid teacher. It is a group of teachers who are always calculated with respect to time and energy released. For him, the profession is a money-making machines. There is the impression that the dominant is materialistic.
Third, stray teachers. They became teachers as an escape, maybe wrong department or not getting jobs in other professions. This group can still be corrected if the competence and the will itself continue to be upgraded.
Fourth, the right teacher. It is the true and correct intention of teachers in four ways. Namely, time, cost, effort, and quality. They are sincerely devoted to the noble task of educating the nation. Blazing spirit, no matter how people commented.
Embedded in the community that the teachers are really dedicated. Dedication to students, schools, communities, and nations. Not surprisingly, teachers almost always involved in various social arenas. Become organizers election, Pilkades, or caretaker RT. Sometimes, for reasons of short-term, the teacher acted off the mark. They become hidden curriculum.
To make sense of professionalism, teachers need to be introspective about some things. First, teachers should not be bored to upgrade skill and science. Times continue to change. For teachers, schools may stop but, learning must continue. Otherwise, it may be true critic of Franz Magnis Suseno, our teachers are not trained to anticipate change. They always see themselves as an authority, but their confidence is weak.
Second, constantly increasing professionalism. Professional means that teachers work only be performed by someone who has academic qualifications, competence, and educator certificate in accordance with the requirements for each type and level. In Law No. 14 of 2005 is mentioned, a teacher must have the four core competencies. Namely, pedagogical competence, personality, professional, and social.
Third, keep the sincerity and genuine intention to devote himself for the development of educational tradition in the community. Without sincerity, knowledge provided to students will not be absorbed optimally.
Students must learn to thank people who have helped them. Above all is the parent who has given birth to and nurturing them. Students must love and respect their parents. Furthermore, students have to thank to the teachers, because students gain knowledge and wisdom through the teachers. Then students must love and respect for teachers. Similarly, students have gained much from society, from the nation, from the world, and nature. Students must always be grateful to all things.
Teacher Hymn is often sung by the students during the flag ceremony or farewell. Anyone who listens to this his heart touched, not even rarely shed a tear. Poem of teacher hymn contains gratitude and admiration to the teaching profession that has many services to the nation and state. Which is still in question in the teacher’s heart is whether it is true that his name is always remembered by his former student? Is it true that people and governments are sincerely grateful? If it is true what action has been done by the community and government to increase teachers’ professionalism and welfare?
The reality of the teaching profession are not all like what is described in the hymns of teachers. Not infrequently the students who had been trained patiently and sincerity, now behave otherwise if they meet or passed on their teacher they ignore and indifferent. Surely these actions are very hurtful to the teachers.
Teachers should not be given only enough gratitude, flattery, and entertainment through songs. It is more important for teachers is an increase in professionalism, protection, welfare, worth rewards worth, and smooth career.
Teachers are required to be professional in his field, but on the other hand the devotion and hard work get less attention from the government. Teachers fate from the old order until the reformation era is still very concerned different with other professions. This is due to the government or foundations (private teacher) can not provide decent wages for teachers such as Brunei, Malaysia, Japan, and the United States. The salary they received was not enough to fulfill their need let alone for their household.
Teachers in meeting the needs of living, they must struggle and work hard to find extra income. Things that teachers do, include teaching at another school, giving private lessons, selling, and even a public motorcycle rider. Therefore, it is not wrong if the question arises how they can think of professionalism if their basic needs only (carbo hydrate) is not fulfilled? Moreover, to purchase books that support the profession, on how education can be developed if educators still face many problems?. Those questions require answers in the form of action (policy) by the government and local governments to resolve the problems that teachers face.
I can still remember how we first time entered school, first learning to write. We held pencil in our hands trembling because we never did it before, plus a nervous too. But our teachers in elementary school teach and guide us patiently without ever being bored.
If we talk about the kindness and the sacrifices they give to us it seems there is no the end of this. Therefore once again I invite to thank to our teachers, thank not only in words but also in all forms of its application as I described earlier.
That’s all from me, thanks a lot for your nice attention. Please forgive me if you found many mistakes from my speech. The last I say Assalmlkm Wr. Wb.